Opini  

Tidore di Persimpangan Momentum : Antara Euforia Event dan Tanggung Jawab Masa Depan

Oleh : Ulys Irawan Hamzah

Rencana Kota Tidore Kepulauan menjadi tuan rumah Piala Presiden 2026 sekaligus persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi Maluku Utara adalah momentum yang tidak boleh dipandang sekadar sebagai agenda tahunan. Ini adalah titik penting yang dapat menentukan arah pembangunan olahraga, ekonomi lokal, dan kualitas generasi muda di Tidore.

Sebagai pemuda asal Soasio, saya memandang bahwa optimisme yang berkembang saat ini adalah hal yang positif. Kesiapan tim Persikota yang hampir sempurna menunjukkan bahwa kerja-kerja pembinaan sudah berjalan. Ini perlu diapresiasi. Namun, optimisme tanpa kesiapan yang matang justru bisa menjadi bumerang. Karena itu, kita harus menempatkan semangat ini dalam kerangka tanggung jawab bersama.

Event seperti Piala Presiden bukan hanya tentang siapa yang menang di lapangan. Lebih dari itu, ini adalah tentang bagaimana sebuah daerah menunjukkan kapasitasnya dalam mengelola kegiatan berskala besar. Mulai dari kesiapan infrastruktur, manajemen penonton, hingga ketertiban publik, semuanya akan menjadi cerminan wajah Tidore di mata luar.

Langkah panitia yang melibatkan UMKM adalah keputusan strategis yang layak didukung. Ini menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi pintu masuk untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Namun, kolaborasi ini harus dirancang secara serius, bukan sekadar pelengkap acara.

Pelaku UMKM perlu diberikan ruang yang adil, terorganisir, dan berkelanjutan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Di sisi lain, harapan agar Presiden Prabowo Subianto dapat hadir membuka kegiatan tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Tetapi kita juga perlu bijak memaknai hal tersebut. Kehadiran pemimpin nasional seharusnya menjadi pemantik semangat untuk memperkuat kapasitas daerah, bukan menjadi tujuan utama dari seluruh persiapan. Substansi kegiatan tetap harus menjadi prioritas.

Hal yang paling penting dan tidak boleh terabaikan adalah fokus pada pengembangan sepak bola usia dini. Di sinilah letak masa depan olahraga kita.

Event besar seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi mampu meninggalkan jejak pembinaan yang berkelanjutan. Kita ingin melihat anak-anak Tidore tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku utama di masa depan.

Edukasi publik menjadi kunci dalam momentum ini. Masyarakat perlu diajak untuk memahami bahwa kesuksesan sebuah event tidak hanya ditentukan oleh panitia, tetapi juga oleh perilaku kolektif.

Menjaga kebersihan, ketertiban, dan keamanan adalah bentuk partisipasi nyata yang sering kali dianggap sepele, padahal sangat menentukan.

Sebagai masyarakat Tidore, kita memiliki identitas sejarah yang kuat. Kini tantangannya adalah bagaimana identitas itu diterjemahkan dalam tindakan nyata di masa kini—menjadi tuan rumah yang profesional, masyarakat yang sadar peran, dan generasi muda yang visioner.

Momentum ini harus kita jaga dengan bijak. Jangan sampai hanya menjadi euforia sesaat tanpa dampak jangka panjang. Jika dikelola dengan baik, Tidore tidak hanya akan sukses sebagai tuan rumah, tetapi juga menjadi contoh bagaimana olahraga dapat menjadi motor penggerak perubahan sosial dan ekonomi.

Inilah saatnya kita bergerak bersama—bukan hanya untuk sebuah event, tetapi untuk masa depan Tidore yang lebih berdaya dan bermartabat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *